Dakwah Tanpa Mimbar: Ketika Wisatawan Non-Muslim Mengenal Islam di Masjid Putra Putrajaya

Di tengah keramaian wisatawan keluar masuk masjid megah yang berdiri di pusat kota Putrajaya Malaysia yang bernuansa seperti suasana bangunan Timur Tengah, ada satu pemandangan yang membuat penulis berhenti sejenak. Apa yang mendorong wisatawan non-Muslim untuk menghabiskan waktu di masjid? Pertanyaan mendalam ini tiba-tiba muncul saat penulis berkunjung ke Masjid Putra Putrajaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Tampak banyak orang asing dengan senang mengeksplor di Masjid Putra dan berdiskusi dengan relawan ataupun petugas keamanan masjid mengenai ajaran Islam. Pemandangan ini terasa unik karena tanpa adanya ceramah yang keras dan tanpa paksaan untuk ikut serta. Justru, dari sinilah minat untuk mengenal Islam berkembang secara alami.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di tengah derasnya informasi digital saat ini. Berbagai pengetahuan mengenai Islam dapat dengan mudah diakses melalui internet dan sosial media. Tetapi, yang terjadi tidak semua informasi tersebut memberi pemahaman yang utuh. Sehingga, banyak orang di dunia mengenal Islam melalui stereotip, prasangka, dan informasi yang salah.
Di tengah situasi itu, Masjid Putra Putrajaya, Malaysia, mengambil pendekatan yang berbeda. Masjid yang menjadi salah satu simbol kota Putrajaya ini tidak hanya menarik karena keindahan bangunannya dan warna kubah merah muda yang khas. Selain itu, masjid ini juga menyediakan ruang yang memungkinkan siapa saja untuk mempelajari Islam melalui pengalaman belajar yang terbuka, ramah, dan menyenangkan.
Saat memasuki area masjid, pengunjung akan disuguhkan sebuah ruangan yang berisi informasi-informasi mengenai ajaran Islam. Mulai dari pembahasan mengenai tauhid, cerita para Nabi, perkembangan peradaban Islam, hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan, sampai berbagai koleksi buku keislaman yang bisa dibaca secara bebas. Suasana di ruangan itu menyerupai museum sekaligus tempat informasi yang terbuka untuk semua orang, tanpa memperhatikan latar belakang agama atau kebangsaan mereka.
Berdasarkan pengamatan penulis, banyak wisatawan non-Muslim yang datang bukan hanya untuk memotret atau menikmati keindahan bangunan masjid. Mereka terlihat menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku yang ada, mencoba memahami poster-poster sejarah Islam di papan pigura yang disediakan, hingga mereka juga dapat berbicara dengan relawan mengenai berbagai hal yang ingin mereka ketahui tentang Islam. Bahkan, beberapa orang di antaranya terlihat membaca terjemahan ayat-ayat al-Qur’an dengan rasa penasaran yang tinggi.
Pemandu wisata Malaysia yang kerap disapa Ayah Mi juga mengiyakan hal itu. Beliau menjelaskan bahwa banyak wisatawan non-Muslim yang datang bukan hanya ingin melihat keindahan Masjid Putra, tetapi juga ingin lebih dekat memahami agama Islam. Fasilitas pendidikan yang ada membuat mereka merasa percaya diri untuk bertanya dan belajar tanpa merasa malu.
Hal lain yang menarik adalah aturan berpakaian bagi pengunjung non-Muslim. Wisatawan yang berpakaian tidak sopan diminta memakai jubah panjang berwarna merah sebelum masuk ke area utama masjid. Proses ini dijalankan dengan cara yang santai dan ramah, sehingga tidak membuat orang merasa dihakimi atau dipaksa.
Sekilas, aturan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik jubah tersebut tersimpan sebuah pesan dakwah yang memiliki makna yang dalam. Tanpa perlu berbicara banyak, pengunjung diajak untuk mengerti bahwa setiap tempat ibadah memiliki nilai dan aturan yang harus dihormati. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan tentang konsep aurat dalam Islam, tetapi juga merasakan langsung bagaimana nilai kesopanan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa ketika Islam diajarkan dengan cara yang baik dan mudah dipahami, banyak orang justru merasa tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam. Mereka tidak merasa dihukum atau dipaksa untuk menerima keyakinan tertentu. Mereka juga diberikan kesempatan untuk memahami Islam secara langsung melalui pengetahuan, pembicaraan, dan pengalaman yang menyenangkan.
Menariknya lagi, sebagian besar wisatawan mengikuti aturan tersebut dengan semangat. Banyak orang justru mengabadikan momen saat memakai jubah sebagai bagian dari pengalaman budaya selama berada di Masjid Putra. Hal sederhana ini menunjukkan bahwa menyebarkan pesan agama tidak selalu harus dilakukan dengan menggunakan perkataan. Simbol, sikap, dan pengalaman juga bisa digunakan sebagai cara untuk menyampaikan nilai-nilai Islam dengan lebih mendalam dan menyentuh.
Pendekatan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl: 125 yang menyuruh umat Islam untuk menyampaikan dakwah dengan bijaksana, pendidikan yang baik, dan cara yang sopan. Dakwah tidak semata-mata berfokus pada penyampaian informasi, melainkan juga pada cara memastikan bahwa pesan tersebut dapat diterima dengan nyaman oleh orang-orang yang dituju.
Hal ini juga sejalan dengan pandangan Prof. Moh. Ali Aziz yang menjelaskan bahwa keberhasilan dakwah bergantung pada bagaimana seorang pendakwah memahami karakter mitra dakwahnya. Oleh sebab itu, metode yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan audiens agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima secara efektif.
Masjid Putra menunjukkan bahwa wisatawan non-Muslim tidak dianggap sebagai orang yang harus segera mengubah keyakinannya. Mereka dianggap sebagai tamu yang terhormat, diundang untuk berbicara, dan diberi kesempatan memahami Islam dengan cara yang menyenangkan. Cara seperti ini justru membuat orang merasa Islam adalah agama yang terbuka, baik, dan menghargai orang lain.
Model dakwah seperti inilah patut menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan masjid di Indonesia. Masjid tidak hanya digunakan untuk beribadah, tetapi juga bisa menjadi tempat belajar, meningkatkan pengetahuan, berdiskusi antar budaya, serta destinasi wisata keagamaan.
Sehingga dari Masjid Putra, kita belajar bahwa dakwah yang baik tidak hanya didengar dari atas mimbar, tetapi juga bisa dirasakan dari pengalaman yang nyata. Ketika ilmu, sikap yang baik, dan contoh yang baik hadir di satu tempat yang sama, maka dakwah akan terasa lebih hangat. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan undangan agar mengenal Islam dengan hati dan pikiran yang terbuka.
Oleh: Shofiyatul Fikriyah Qotrunnada
Referensi:
Moh. Ali Aziz. 2024. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana.
Pardianto, Abd A’la. 2023. “Pengembangan Moderasi Beragama di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi 4.0.” Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 13 No. 2.
Zaenal Hakim, Yuyun Nurasiah. 2022. “Moderasi Beragama Berbasis Masjid.” Hawari: Jurnal Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Vol.3 No. 1.
0 Komentar