MENILIK KISAH TARI PENTUL MELIKAN, SENI RAKYAT NGAWI PEMBAWA PESAN SUCI

Penulis: Jovan Galuh Ramadhani
Seni tari merupakan ragam gerak manusia yang selain menciptakan suatu keindahan juga menyimpan ajaran yang dapat dipetik untuk peningkatan kualitas diri. Salah satu tarian yang hidup di tengah-tengah masyarakat Ngawi adalah Tari Pentul Melikan. Tari Pentul Melikan berasal dari Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.
Kesenian Pentul Melikan ini lahir karena adanya sintesis antara seni, nasionalisme, dan tuntunan agama. Tari kontemporer ini bukan hanya tontonan mata belaka, di balik gemulai gerak dan dendang gamelannya, tersimpul akar sejarah yang dalam mengenai untaian rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Kesenian ini pun sekaligus hadir sebagai sarana dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat awam.
Sejarahnya, tari ini diciptakan oleh sesepuh dan kyai desa yang bernama Mbah Munajah pada tahun 1952. Mbah Munajah dibantu oleh beberapa saudaranya, antara lain Sahid, Yanudi, dan Harjo Dinomo. Mereka bersama-sama menggagas sebuah kesenian untuk ditampilkan pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-7. Sebagai wujud dari refleksi sejarah, Tari Pentul Melikan dipentaskan pertama kali dengan formasi penari sebanyak 17 orang yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Pemimpin tari disebut dengan pentholan. Ragam gerakannya berjumlah tujuh yang melambangkan dinamika kehidupan.
Tari Pentul Melikan mengajarkan nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air yang tampak dari kostum yang berwarna merah putih. Bagi masyarakat Melikan, kostum tersebut merupakan cerminan dari prinsip bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Melalui filosofi kostum ini, mereka mengekspresikan rasa syukur atas kemerdekaan dan suburnya bumi pertiwi.
Mbah Munajah menciptakan tari tersebut selain untuk perayaan kemerdekaan Indonesia, ia juga mempunyai misi sosial untuk merangkul masyarakat. Kala itu, sebagian masyarakat Desa Melikan ditengarai melakukan tindakan yang menyimpang dari norma sosial dan agama. Dikarenakan masyarakat senang dengan seni budaya, maka Mbah Munajah menciptakan Tari Pentul Melikan untuk sarana dakwah bi hikmah (memberi teladan) supaya masyarakat dapat kembali menyelaraskan hidup dengan tuntunan religi.
Model dakwah yang dilakukan Mbah Munajah memiliki kesamaan dengan yang dilakukan oleh Sunan Drajat di Lamongan. Sunan Drajat berdakwah menggunakan gamelan dan lagu-lagu tradisional supaya masyarakat dapat memahami Islam dengan mudah tanpa menimbulkan perlawanan. Seni ini diposisikan sebagai botol (wadah) sementara isinya adalah ajaran kebaikan.
Penggunaan alat musik gamelan berupa kendang dan kenong mempunyai makna eksplisit yang mendalam. Kendang dengan bunyinya yang berirama “ndang, ndang, ndang” bermakna seruan agar masyarakat bersegera atau cepat-cepat untuk sadar dan meninggalkan perbuatan dosa. Kendang juga mempunyai arti kendel tumandang yang artinya berani berbuat kebaikan.
Kenong adalah alat musik gamelan yang mirip dengan bonang tetapi lebih besar. Jika dipukul, alat musik ini mengeluarkan bunyi nang dan nung yang menjadi gambaran bahwa manusia hidup itu “nang kono” (di sana) dan “nong kene” (di sini), tetapi di manapun tempat berpijaknya harus selalu ingat kepada Tuhan. Selain itu, juga bermakna agar manusia cepat-cepat dumunung (paham) akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Gerakan dalam Tari Pentul Melikan didominasi gerak maknawi (simbolik). Gerakan mengacungkan tangan ke atas dan menunjuk ke depan sebagai simbol dari kalimat syahadat yang mengesakan Tuhan. Sementara itu, gerakan tangan menengadah di depan dada menggambarkan ketulusan doa dan rasa syukur atas pemberian-Nya.
Dalam konsep musikalitasnya, tarian ini menggunakan iringan berupa lagu-lagu perjuangan dan religi. Oleh karena itu, penonton Tari Pentul Melikan tidak hanya mendapat asupan hiburan dari tarian yang memanjakan mata saja tetapi juga mendapat santapan rohani dari lagu-lagu yang dibawakan. Tari Pentul Melikan mengandung nilai-nilai moral seperti disiplin, toleransi, gotong-royong, dan kerja sama.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya bangsa, maka sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus untuk melestarikan Tari Pentul Melikan. Perlu juga untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Nilai positif yang terkandung dalam Tari Pentul Melikan dapat membentuk pribadi yang arif, bijaksana, dan nasionalis di era modern.
0 Komentar