UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

CAHAYA DARI KRAPYAK: BIOGRAFI KH. MUHAMMAD NAJIB ABDUL QODIR MUNAWWIR

Published by admin on

Penulis: Muhammad Khafid Muktadir

Menjaga tradisi Al-Qur’an bukan hanya soal menghafal ayat demi ayat, tetapi juga merawat sanad, menanamkan adab, dan mengabdikan ilmu kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai itulah yang tercermin dalam perjalanan hidup KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir, seorang ulama Al-Qur’an dari Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang dikenal karena ketekunan, kesederhanaan, dan dedikasinya dalam dunia pendidikan Islam.

KH. R. Muhammad Najib lahir di lingkungan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa Pon, 1 Ramadan 1373 H, yang bertepatan dengan 4 Mei 1954 M. Ia merupakan putra kelima dari pasangan KH. R. Abdul Qodir dan Nyai Hj. Salimah Nawawi, dua tokoh yang memiliki peran besar dalam menjaga dan meneruskan tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan Pesantren Krapyak.

Dari garis keturunan ayah, Kiai Najib merupakan keturunan KH. Hasan Bashori, seorang ulama asal Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu ajudan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Sementara itu, dari garis ibu, ia merupakan keturunan KH. Nawawi Jejeran, seorang ulama yang menjadi pemegang mata rantai sanad Tarekat Syattariyah di wilayah Yogyakarta. Latar belakang keluarga inilah yang membentuk lingkungan religius sekaligus menumbuhkan kecintaan Kiai Najib terhadap ilmu agama sejak usia dini.

Masa kecil KH. R. Muhammad Najib tidak selalu berjalan mudah. Saat berusia sekitar enam tahun, Kiai Najib harus kehilangan sosok ayah yang selama itu menjadi tempat belajar sekaligus teladan dalam hidupnya. Sejak saat itu, pengasuhan dan pendidikannya diteruskan oleh sang ibu, Nyai Hj. Salimah Nawawi, bersama kakaknya, Nyai Hj. Umi Salamah. Meski tumbuh tanpa kehadiran sang ayah, Kiai Najib tetap mendapatkan pendidikan agama yang kuat di tengah keluarga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Di kalangan santri, KH. R. Muhammad Najib Munawwir lebih akrab disapa Romo Kiai Najib. Sejak kecil, kesehariannya tidak pernah jauh dari Al-Qur’an. Waktunya diisi dengan membaca, menghafal, dan mempelajari ayat-ayat suci di bawah bimbingan keluarga. Suasana rumah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat pendidikan membentuk karakter sekaligus menumbuhkan kecintaan Kiai Najib terhadap kitab suci. Tak heran jika sejak usia belia ia telah dikenal memiliki kemampuan yang menonjol dalam bidang Al-Qur’an.

Perjalanan keilmuan Romo Kiai Najib berawal dari pendidikan dasar yang diajarkan langsung oleh sang ayah sebelum wafat. Setelah itu, ia memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti akidah, fikih, tasawuf, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu lainnya kepada para masyayikh di Krapyak. Salah satu guru yang paling berpengaruh dalam membentuk keilmuannya adalah KH. Ali Maksum, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Mbah Ali.

Sejak kecil, Kiai Najib telah menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Menurut penuturan KH. R. Abdul Hamid, adik kandungnya, bahkan sebelum lancar membaca huruf-huruf hijaiah, ia sudah menghafal dua juz Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa proses menghafal Al-Qur’an telah dimulai lebih dahulu melalui metode talaqqi di bawah bimbingan langsung pamannya, KH. Ahmad Munawwir, jauh sebelum ia benar-benar mahir membaca mushaf secara mandiri.

Di bawah bimbingan KH. Ahmad Munawwir, yang akrab disapa Mbah Mad, Romo Kiai Najib berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak tiga puluh juz. Setelah itu, ia melanjutkan pendalaman hafalan kepada KH. Arwani Amin atau Mbah Arwan hingga menyempurnakan hafalannya sekaligus mendalami bacaan Qira’at Sab’ah. Perjalanan belajarnya tidak berhenti di situ. Ia juga berguru kepada KH. M. Hisyam Hayat (Mbah Hisyam), salah seorang murid utama Mbah Arwan yang dikenal sebagai ahli Al-Qur’an dan qira’at.

Kesungguhan Kiai Najib dalam menekuni Al-Qur’an akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Ia tercatat sebagai anggota pertama dari keluarga besar KH. Muhammad Munawwir yang berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz sekaligus menguasai Qira’at Sab’ah. Pencapaian tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ulama Al-Qur’an yang memiliki keahlian mendalam di bidang tahfiz dan qira’at. Melalui dedikasinya, Kiai Najib turut meneruskan tradisi keilmuan Al-Qur’an yang telah diwariskan oleh para pendahulunya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *