UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

SAAT PRESTASI JADI KONTEN: APA KATA AL-QUR’AN?

Published by admin on

Penulis: Ummu Uswatun Labibah

“Upload IPK nanti dibilang pamer”

“Jangan posting sertifikat, nanti banyak yang hasad”

“Takut kena ‘ain, mending disimpan saja prestasinya”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar, terutama di kalangan mahasiswa. Di era digital, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi foto atau cerita keseharian. Platform ini juga menjadi ruang untuk membangun personal branding, yaitu upaya membentuk citra diri yang positif dan profesional melalui konten yang dibagikan. Karena itu, banyak orang mengunggah berbagai pencapaian, mulai dari prestasi akademik, sertifikat pelatihan, pengalaman organisasi, hingga penghargaan yang pernah diraih, sebagai cara memperkenalkan kemampuan, minat, dan potensi yang mereka miliki.

Di sisi lain, muncul kegelisahan di kalangan sebagian muslim. Apakah mengunggah prestasi merupakan bentuk syukur, atau justru riya’? apakah menunjukkan nikmat Allah diperbolehkan, atau malah membuka pintu hasad (dengki) dari orang lain? pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak mengunggah prestasi, melainkan bagaimana Al-Qur’an mengajarkan etika bersyukur tanpa terjerumus pada kesombongan, serta bijak menghadapi realitas media sosial.

Lantas, bagaimana Al-Qur’an memandang fenomena ini? Apakah mengunggah prestasi di media sosial bisa menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah, atau justru berpotensi menumbuhkan riya, kesombongan, dan hasad? Pertanyaan ini penting untuk dijawab agar kita bisa menggunakan media sosial secara lebih bijak sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Untuk menjawabnya, kita dapat meninjau QS. Aḍ-ḍuḥā ayat 11:

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْࣖ ۝١١

Artinya: “Terhadap nikmat tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).”

Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa menampakkan nikmat Allah pada dasarnya diperbolehkan selama disertai dengan rasa syukur dan tidak pamer. Artinya, Islam tidak melarang seseorang menunjukkan keberhasilannya, selama hal itu dilakukan dengan niat yang baik.

Misalnya seorang mahasiswa yang mengunggah kabar kelulusan, prestasi lomba, atau sertifikat pelatihan. Bisa jadi tujuannya bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menginspirasi teman-temannya agar tetap semangat belajar dan terus berusaha. Dalam kondisi seperti itu, yang dinilai bukan sekadar unggahannya, melainkan niat dan tujuan di baliknya.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Islam mengajarkan bahwa setiap amal sebaiknya dilakukan karena Allah, bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Ketika sebuah unggahan dibuat hanya demi pujian, jumlah “like”, atau validasi dari orang lain, maka rasa syukur yang semula baik bisa berubah menjadi riya’. Karena itu, sebelum menekan tombol “upload”, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah unggahan ini benar-benar bermanfaat, menginspirasi, dan memberi semangat bagi orang lain, atau justru hanya untuk mencari pujian?.

Lalu bagaimana jika postingan kita menimbulkan hasad (dengki)? Dalam QS. Al-Falaq ayat 5 dijelaskan bahwa keberadaan hasad bukanlah alasan untuk berhenti bersyukur atau menyembunyikan nikmat Allah. Al-Qur’an justru mengajarkan keseimbangan: nikmat boleh ditampakkan sebagai bentuk syukur selama tidak disertai kesombongan, riya’, atau niat merendahkan orang lain. Di saat yang sama, seorang muslim juga dianjurkan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari kejahatan orang yang hasad (dengki).

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang boleh atau tidaknya mengunggah prestasi. Yang jauh lebih penting adalah mengapa kita membagikannya dan bagaimana cara kita melakukannya.

Jika sebuah unggahan lahir dari rasa syukur, bertujuan menginspirasi atau menyebarkan semangat kebaikan, maka media sosial dapat menjadi sarana dakwah. Sebaliknya, jika unggahan hanya bertujuan mencari pujian atau menegaskan superioritas diri, maka esensi syukur perlahan akan bergeser menjadi pencarian validasi. Sebab personal branding terbaik bukanlah yang membuat nama kita paling dikenal, melainkan yang membuat keberadaan kita paling bermanfaat.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *