Ketika Bumi Merintih, Langit Membuka Ayat: Renungan Qur’ani tentang Luka Alam
Penulis: Dinia Roihana Mawarda

Ada saat-saat ketika bumi tidak lagi berbisik pelan, melainkan benar-benar merintih. Kita tidak selalu mendengar rintihannya, sebab dunia terlampau bising. Ia terdengar pada rumah-rumah yang hanyut, pohon-pohon yang tumbang, tanah yang kelelahan menopang, dan langit yang seakan menumpahkan seluruh ingatannya dalam deras yang tak berhenti.
Akhir tahun 2025 menjadi saksi rintihan itu.
Di Aceh dan Sumatera, hujan bukan lagi sekadar hujan. Air turun seperti sedang memanggil kita untuk menengok kembali apa yang telah kita lakukan pada hutan, sungai, dan tanah. Banjir meluap, longsor meluruhkan bukit-bukit. Ribuan orang mengungsi, banyak yang kehilangan rumah. Seorang ibu berteriak menyebut nama anaknya, seorang suami berlarian mencari istrinya, tanpa tahu apakah orang yang mereka cari masih menunggu atau sudah kembali kepada-Nya. Kesedihan itu duduk di antara mereka, membuat jiwa serasa ingin menyerah.
Akar-akar yang dulu menahan tanah telah hilang dari tempatnya. Daun-daun yang dulu meminum air tak lagi tumbuh di sana. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm: 41). Ayat ini seperti cermin yang tiba-tiba dihadapkan pada wajah kita sendiri, wajah yang lupa menjaga rumahnya.
Lalu ada Semeru. Gunung yang tubuhnya tak pernah benar-benar tidur. Erupsi Semeru berdiri sebagai pengingat bahwa sebagian luka alam adalah bagian dari siklus yang ditetapkan-Nya. Di saat yang sama, kita berdiri di antara dua kenyataan: ada bencana yang lahir dari ulah tangan manusia, dan ada bencana yang lahir dari kehendak-Nya. Keduanya mengajak kita merenung.
Kita ingin menolong. Tapi tidak semua punya tenaga untuk hadir di lokasi, dan tidak setiap orang punya kemampuan materi. Sebagian dari kita hanya bisa menatap layar, membaca kabar demi kabar, lalu merasakan dada menghangat oleh perasaan ingin membantu tapi tak tahu bagaimana. Di titik itulah pertanyaan itu muncul: “Apa yang sebenarnya bisa aku lakukan?”
Allah menjawab kegelisahan itu dengan kalimat yang lembut. “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghābun: 16). Kata menurut kesanggupanmu seperti pintu yang dibuka lebar-lebar untuk semua orang. Tidak ada yang tertutup dari kesempatan untuk kita terus melakukan kebaikan.
Jika tangan kita tidak mampu memberi, maka tangan kita selalu mampu mengangkat doa. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, dari Abu Darda RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan orang itu adalah doa yang mustajab. Di atas kepadanya ada malaikat yang diutus untuk mengaminkan, maka setiap kali ia berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka malaikat utusan itu berkata, aamiin, dan untukmu pula doa yang serupa.” (HR. Muslim no. 2733). Doa itu tidak kelihatan, tapi gerakannya halus, seperti angin di waktu shubuh yang menyelinap ke celah tenda para pengungsi. Bukan besar-kecilnya bantuan yang Allah lihat, melainkan ketulusan yang tak pernah padam meski tak terlihat.
Selama kita masih menyebut saudara-saudara itu dalam doa, selama hati kita menolak untuk acuh, selama kita percaya bahwa kebaikan tetap bisa bergerak bahkan dari tangan yang kosong, maka musibah tidak akan benar-benar mematahkan kita. Karena kekuatan manusia tak hanya ada pada apa yang ia genggam, melainkan juga pada apa yang ia panjatkan.
0 Komentar