UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

Meneladani Kesabaran Nabi Ayyub as

Published by admin on

Penulis: Dina Mutia Wardani

Nabi Ayyub AS merupakan seorang nabi yang kaya sekaligus dermawan serta mendapat nikmat berlimpah dari Allah, seperti ternak, kebun, kekayaan, keluarga, dan keturunan. Nabi Ayyub AS juga seorang berakhlak mulia, ia sangat sabar, dermawan kepada fakir miskin, dan senantiasa memuliakan tamu. Karena ketakwaannya, Allah memuliakan Nabi Ayyub AS hingga berita tersebut terdengar oleh iblis yang dengki. Iblis meminta izin kepada Allah SWT untuk menguji Nabi Ayyub AS dengan musibah. Iblis dan syaitan membakar ternak, Menghancurkan ladang dan merusak harta beliau. Iblis tak henti-henti memikirkan cara untuk menjatuhkan nabi Ayyub AS seperti yang tertera pada surah Shad ayat 41:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١

41.  Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan (rasa sakit).”

Sebanyak apapun cobaan yang dialami Nabi Ayyub AS, ia tetap bersabar dan berserah kepada Allah SWT. Dalam Islam, Sabar adalah salah satu akhlak Qur’ani yang paling utama dan ditekankan oleh Al-Qur’an baik pada surat-surat Makkiyah maupun Madaniyyah, serta akhlak terbanyak yang disebutkan dalam al-Qur’an. Sabar adalah salah satu akhlak terpuji yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari seperti keikhlasan dalam menerima ujian tanpa mengeluh dan bersabar atas ujian yang melanda demi mengharap ridho Allah SWT kepada diri kita. Seperti nabi Ayyub AS dalam surah Luqman ayat 17:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١

17.  Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.

Prof. H. Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa sabar itu mencegah diri atau membatasi jiwa dari kemauannya dalam rangka memperoleh kebaikan. Seperti ditengah penyakit kulit yang diderita nabi Ayyub, beliau tetap beribadah kepada Allah SWT tanpa mengeluh serta berprasangka buruk menyalahkan Allah. Berbeda dengan orang awam yang baru diberi musibah kecil langsung mengeluh, seperti tersandung kerikil lalu menggerutu tanpa henti di jalan bahkan terkadang keluar kata-kata yang kurang baik. Sedangkan, selama nabi Ayyub AS sakit sekaligus kehilangan harta bendanya, sang istri setia menemani dan merawatnya. Beliau tidak meminta bantuan pada orang lain agar bisa sembuh, tapi meminta kesembuhan hanya kepada Allah SWT. Hingga akhirnya Do’a nabi Ayyub dijawab oleh Allah, pada surah Al-Anbiya’ ayat 83-84:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ ٨٤

83.  (Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” 84.  Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami).

Nah, kehilangan harta, kesehatan serta anak-anak tentu ujian yang tidak mudah, tetapi Nabi Ayyub tetap sabar, tidak mengeluh, dan terus berdoa kepada Allah. Karena kesabaran dan imannya, Allah akhirnya mengangkat penderitaannya, mengembalikan kesehatannya, serta melipatgandakan harta dan keturunannya. Kisah ini menjadi teladan tentang kesabaran dan keyakinan dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Kita sebagai orang mu’min hendaknya menerapkan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berucap maupun dalam bertindak.

REFERENSI

Islamiyah, Nur Mawaddah. “Konseo Kesabaran dalam Kisah Nabi Ayyub Surta Al-Anbiya Ayat 83-84 (Studi Komparatif Tafsir Al-Misbah, Al-Azhar dan Fi Zhilal Al-Qur’an).” Al-Ihda’: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran 18, no. 2 (2023): 1255–71.

Sutarman, Sutarman. “Manajemen Sabar Motivasi Sukses Dalam Kehidupan.” Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) 2, no. 2 (2014): 181–202.

Trisia, Adelia, dan Tri Anggraini. “Nilai Pendidikan Akhlak Pada Kisah Nabi Ayyub as: Ketabahan Dalam Menghadapi Ujian (Analisis Al-Qur’an Surat Shad Ayat 41-44).” Al-I’jaz: Jurnal Kewahyuan Islam 7, no. 2 (2021).


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *