UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

Puitisasi Al-Qur’an: Dari Kontroversi Menuju Ajang Lomba Kreatif Anak Muda

Published by admin on

Penulis : Abidah Al Adawiyah dan Aniqoh Damar 'asyuro

Di Indonesia, menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bentuk puisi pernah menjadi topik panas dan penuh pro-kontra. Dulu, banyak ulama dan akademisi yang keberatan dengan ide ini, beberapa dari mereka bahkan menentang dan mengkritik keras, sampai ada yang berusaha melarang penyebaran karya-karya puitisasi Al-Qur’an. Namun, zaman sekarang sudah berbeda, puitisasi Al-Qur’an kini tidak hanya diterima tetapi juga dijadikan sebuah cabang lomba di berbagai ajang, baik yang diadakan secara offline maupun online. Artinya, puitisasi yang dulu sempat dianggap kontroversial, sekarang justru menjadi ruang berekspresi yang dihargai, terutama di kalangan generasi muda yang memiliki bakat sastra berbasis Qur’ani.

Awalnya, terjemahan Al-Qur’an dalam bentuk puisi sempat menimbulkan perdebatan hebat. Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah karya HB Jassin pada tahun 1960-1970an. Banyak yang menolak, bahkan mengaitkan karya ini dengan paham yang dianggap kontroversial, sementara ada pula yang mendukung dan menganggap ini sebagai cara baru yang menarik untuk memahami Al-Qur’an. Perlahan, pandangan yang dulu menolak mulai bergeser. Kehadiran lomba-lomba puitisasi Al-Qur’an di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum semakin menunjukkan bahwa karya jenis ini kini mendapatkan tempat istimewa.

Meskipun ada jarak waktu, karya puitisasi Al-Qur’an zaman dulu dan sekarang, ternyata memiliki banyak kesamaan, dari segi diksi (kata-kata yang dipakai), cara menggambarkan isi, tipografi (tata letak teks), hingga aturan menulisnya. Karya-karya ini saling melengkapi dan tidak terlalu berbeda. Perbedaannya, karya terdahulu yang menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk puisi condong dengan motivasi religus dan edukatif, sedangkan karya-karya puitisasi Al-Qur’an generasi muda yang sekarang menjadi mayoritas, memiliki motivasi kompetitif untuk mengikuti lomba yang memiliki aturan tertentu sehingga karya tersebut tetap menjaga esensi dan keindahan puisi Al-Qur’an.

Di era digital sekarang, perlombaan puitisasi Al-Qur’an menjadi media yang cocok untuk mendukung tumbuhnya karakter berjiwa Qur’ani dan jiwa kompetitif anak muda. Keunggulannya bukan hanya soal seni dan budaya, tetapi juga pendidikan dan teknologi. Contohnya, ajang seperti IPPBMM yang melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah, memberikan kesempatan untuk menyalurkan minat dan bakat mereka dalam memaknai Al-Qur’an secara kreatif. Bahkan selama masa pandemi dulu, cabang perlombaan jenis ini tetap berlangsung secara daring dengan mengumpulkan karya video dan tulisan.

Secara edukatif, cabang lomba puitisasi Al-Qur’an telah membuktikan eksistensinya, terutama kolaborasinya dengan memanfaatkan teknologi. Bahkan cabang lomba puitisasi Al-Qur’an cocok menjadi salah satu ajang untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia dengan tujuan memperkokoh jiwa Qur’ani melalui karakter kompetitif yang ada pada diri mereka. Ini membuktikan bahwa seni dan agama bisa berjalan beriringan, bahkan di era digital yang serba cepat, karya kreatif seperti puitisasi Al-Qur’an bisa menjadi wadah bagi generasi emas Indonesia untuk berkembang dan berprestasi.

Akankah tulisan ini berhenti disini? Puitisasi Al-Qur’an dalam konteks ajang perlombaan tampaknya cukup menarik dan berani. Yang awalnya adalah sebuah isu kontrovesial, bisa berubah menjadi ajang kreatif generasi emas Qur’ani. Dan mereka yang berani menyelenggarakan perlombaan dengan cabang lomba ini harus diapresiasi, karena merekalah yang memiliki peran menggeser image buruk dari adanya terjemahan Al-Qur’an dalam bentuk puisi. Apakah semua kompetisi berbasis Qur’ani memiliki cabang lomba ini? Tidak semua, dan tentu ini bisa menjadi sebuah inovasi jika bisa diterapkan di event perlombaan manapun terutama ajang perlombaan berbasis Qur’ani. Dan tentunya inovasi ini, dengan kita yang disebut-sebut sebagai calon generasi emas di masa depan yang notabene memiliki pondasi Qur’an yang kuat, memiliki tanggung jawab untuk mengemban peran tersebut. Karena kalau bukan kita, lalu siapa lagi?.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *