Intropeksi Diri Santri Untuk Menguatkan Kembali Peran Santri
Penulis: Adhiswar Azizi, Muhammad Firhan Rosyid, dan Muhammad Choirur Roziqin
Santri merupakan istilah umum yang ditujukan kepada orang yang mengenyam Pendidikan pesantren, berapapun usianya, apapun tingkatan pendidikannya, selama ia tinggal dan mengenyam pendidikan di pesantren maka ia disebut santri. Menurut komisioner KPAI, Aris Leksono, santri adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci.
Ketika berada di pondok pesantren, santri akan dibekali segudang ilmu pengetahuan yang pada umumnya memperdalam ajaran islam. Baik dari kitab-kitab karangan para ulama, maupun buku-buku konvensional.
Santri akan dibimbing oleh para guru dan kyai dengan harapan dapat membawa perubahan yang lebih baik untuk masyarakat. Dengan memberikan teladan dalam hal akhlak, ilmu, dan amal perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai Islami. Namun, kenyataannya hal tersebut tidak sesuai dengan realita lulusan pesantren saat ini.
Para alumni pesantren saat ini bagaikan singa liar yang lepas dari kandangnya. Setelah lulus, mereka seolah-olah terbebas dari jeratan rantai peraturan dan tata tertib di pesantren sehingga mereka menganggap bahwa situasi tersebut adalah puncak euforia yang harus mereka gunakan untuk menjajal segala kerlap-kerlip bebasnya dunia.
Hal ini dikarenakan sebagian santri kurang memahami esensi kedisiplinan sebagai alat pembentukan karakter. Kedisiplinan sering dianggap hanya berlaku di pesantren dan tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar pesantren.
Selain itu kurangnya internalisasi nilai-nilai yang ditanamkan pesantren dapat mempengaruhi perilaku mereka ketika kembali ke masyarakat. Contohnya santri yang baru lulus dari pesantren lalu melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ketika santri tersebut di pondok, ia sangat tertib dan disiplin, tetapi ketika sudah menjadi mahasiswa semua itu hilang karena euforia kebebasan diluar lingkup pesantren.
Santri juga mengalami tantangan besar dalam menghadapi dunia luar yang penuh dengan pengaruh budaya modern. Ketika di pesantren, akses terhadap dunia luar, seperti media sosial dan hiburan terbatas. Ketika lulus eksplorasi mereka terhadap hal-hal ini sangat bebas dan sehingga. banyak alumni santri terjerumus ke dalam gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pesantren.
Lantas bagaimana solusi dari masalah tersebut?
Selalu ada solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama adalah penguatan internalisasi nilai-nilai pesantren sejak dini. Pesantren perlu menanamkan pemahaman bahwa kedisiplinan dan moralitas bukan hanya untuk ditaati selama berada di pesantren, tetapi harus menjadi pedoman hidup dimanapun mereka berada. Proses ini bisa dilakukan melalui pendekatan personal, seperti diskusi rutin yang menekankan pentingnya nilai-nilai islami dalam kehidupan modern. Dengan demikian, santri akan memahami bahwa kebebasan adalah tanggung jawab, bukan sekadar ruang untuk melakukan apa saja.
Selain itu, pesantren bisa memperkaya kurikulumnya dengan materi yang relevan dengan dunia luar. Pendidikan duniawi yang mencakup keterampilan sosial, pengelolaan diri, dan adaptasi budaya dapat membantu santri lebih siap menghadapi kehidupan setelah lulus. Pelatihan ini dapat mencakup cara menggunakan teknologi dengan bijak, mengelola kebebasan, dan memahami tanggung jawab sebagai alumni pesantren yang diharapkan menjadi teladan di masyarakat.
Untuk jangka panjang solusi yang dapat dilakukan adalah membentuk forum atau komunitas alumni. Komunitas ini bertujuan memberikan dukungan moral dan spiritual kepada para alumni dalam menjalani kehidupan di luar pesantren. Forum ini dapat menjadi tempat diskusi dan pengingat bagi alumni untuk tetap memegang nilai-nilai pesantren sambil beradaptasi dengan dunia luar. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, alumni diharapkan dapat mengatasi tantangan kebebasan dengan bijak dan tetap menjadi panutan di lingkungannya.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Kutipan dari Qur’an surat Al-Baqarah ayat 2 ini mengingatkan bahwa pedoman hidup yang benar berasal dari ketakwaan kepada Allah SWT, dan nilai-nilai pesantren adalah bagian dari upaya untuk mencapai takwa tersebut. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah seperti memperkuat penanaman nilai-nilai pesantren sejak dini, memperbarui kurikulum agar lebih relevan dengan realitas dunia luar, dan membentuk komunitas alumni sebagai wadah pendampingan berkelanjutan untuk mengatasi pengaruh budaya modern yang menyebabkan perilaku menyimpang santri dari ajaran yang telah diperoleh.
0 Komentar