PEMANFAATAN APLIKASI NGAJI.AI SEBAGAI WUJUD PEMBUMIAN AL QUR’AN PADA PEMULA

ilustrasi Ngaji.AI (play.google.com)
Penulis : Usfi dan Aisyah
Di zaman modern ini, teknologi telah menyentuh hampir setiap aspek kehidupan, termasuk bagaimana umat Muslim belajar Al-Qur’an. Salah satu terobosan di dunia pembelajaran Al-Qur’an adalah aplikasi Ngaji.ai, sebuah inovasi yang memadukan teknologi dengan kebutuhan spiritual untuk memudahkan pemula membaca kitab suci dengan lebih baik dan efektif. Aplikasi ini tak hanya dirancang untuk membantu orang yang baru belajar, tetapi juga untuk mendekatkan Al-Qur’an kepada berbagai kalangan yang sebelumnya mungkin merasa kesulitan untuk mempelajarinya.
Akses Mudah dengan Gadget
Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan gadget di segala lapisan masyarakat, Ngaji.ai hadir sebagai solusi yang menarik. Dengan fitur-fitur interaktif seperti tadarus, kelas pembelajaran, evaluasi bacaan, dan pengingat waktu shalat, aplikasi ini menawarkan cara yang mudah dan menyenangkan untuk mempelajari Al-Qur’an di mana saja dan kapan saja. Tidak ada lagi alasan merasa malu untuk belajar, terutama bagi mereka yang berusia dewasa atau bahkan lanjut usia, yang mungkin sebelumnya merasa canggung untuk memulai dari awal.
Bagi pemula, aplikasi ini dilengkapi dengan materi pembelajaran bertingkat, mulai dari pra-tahsin hingga tahsin. Ini memberikan jalur belajar yang terstruktur, di mana pengguna dapat meningkatkan keterampilannya secara bertahap. Salah satu fitur utama yang disorot adalah kemampuan aplikasi ini untuk mendeteksi ketepatan pelafalan pengguna melalui rekaman audio. Pengguna dapat merekam bacaan mereka, dan aplikasi akan memberikan koreksi jika terdapat kesalahan dalam pelafalan huruf hijaiyah atau ayat-ayat Al-Qur’an.
Selain itu, fitur tadarus dalam aplikasi memungkinkan pengguna untuk membaca seluruh 30 juz Al-Qur’an dengan terjemahan yang tersedia, menjadikannya alat yang lengkap bagi siapa pun yang ingin memperdalam pemahaman akan Al-Qur’an. Fitur pengingat shalat juga menjadi nilai tambah, karena memungkinkan aplikasi ini untuk tidak hanya menjadi platform belajar, tetapi juga pengingat spiritual yang lengkap.
Dampak Positif bagi Pendidikan Al-Qur’an
Pendidikan agama, khususnya pembelajaran Al-Qur’an, selama ini seringkali menghadapi tantangan dalam hal motivasi belajar, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Ngaji.ai mampu memberikan solusi dengan pendekatan yang lebih modern dan sesuai dengan gaya hidup digital saat ini. Aplikasi ini sangat diminati oleh anak-anak karena desainnya yang menarik dan mudah dipahami. Bahkan, aplikasi ini memiliki rating 4,7 di Google Play, menunjukkan respon positif dari pengguna.
Di lingkungan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), aplikasi ini menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat. Pengajar di TPQ Asy Syahadah di Surabaya, misalnya, mengungkapkan bahwa Ngaji.ai mampu menambah semangat anak-anak dalam belajar mengaji. Dengan aplikasi ini, anak-anak dapat mengulangi pelajaran yang telah mereka dapatkan di TPQ saat berada di rumah, sehingga proses belajar tidak terhenti hanya di kelas.
Namun, meski banyak mendapatkan apresiasi, aplikasi ini juga menimbulkan kekhawatiran dari para pendidik. Beberapa pengajar khawatir bahwa aplikasi seperti Ngaji.ai bisa membuat anak-anak merasa cukup belajar dari gadget saja, tanpa merasa perlu datang ke TPQ atau berinteraksi langsung dengan guru. Ada juga kekhawatiran bahwa peran guru dalam mengajar akan semakin berkurang, karena aplikasi menawarkan kenyamanan belajar secara mandiri.
Peran Guru yang Tak Tergantikan
Meski teknologi memberikan banyak kemudahan, ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh aplikasi, terutama dalam konteks pembelajaran agama. Dalam tradisi Islam, pentingnya sanad, yaitu keterhubungan ilmu dari guru ke murid secara langsung, adalah prinsip fundamental. Sanad ini memastikan bahwa ilmu yang diterima terjamin keaslian dan kualitasnya, karena diajarkan secara langsung dari sumber yang dapat dipercaya.
Ngaji.ai dan teknologi serupa memang menawarkan kemudahan dalam pembelajaran, tetapi tetap tidak bisa menggantikan peran guru sebagai pembimbing spiritual yang memiliki sanad. Al-Qur’an bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi juga memerlukan pemahaman mendalam tentang makna dan pengamalan adab dalam membaca dan mempelajari isinya. Oleh karena itu, peran asatidzah (guru agama) tetap krusial dalam mengajarkan Al-Qur’an dengan benar dan membimbing para murid dalam perjalanan spiritual mereka.
Untuk mengatasi tantangan ini, konsep blended learning atau pembelajaran campuran menjadi solusi yang tepat. Dalam pendekatan ini, peran guru tetap menjadi yang utama, dengan sekitar 80% pembelajaran dilakukan secara langsung, sedangkan teknologi seperti Ngaji.ai digunakan sebagai pelengkap dengan porsi 20%. Dengan metode ini, murid tetap mendapatkan bimbingan dari guru yang memiliki sanad yang jelas, namun juga bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan keterampilan mereka secara mandiri di luar kelas.
Tantangan Teknologi dalam Pembelajaran Al-Qur’an
Meski menawarkan berbagai kemudahan, Ngaji.ai juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah ketergantungan pada internet. Aplikasi ini hanya bisa digunakan jika terdapat akses internet yang stabil. Hal ini menjadi hambatan bagi pengguna di wilayah-wilayah terpencil yang sulit mendapatkan sinyal. Selain itu, aplikasi ini juga belum bisa digunakan di perangkat lain seperti laptop, yang kadang dibutuhkan untuk pembelajaran kelompok. Kekhawatiran lain adalah bahwa anak-anak bisa terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel, yang bisa mengarah pada kecanduan gadget.
Ngaji.ai adalah contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan umat Muslim pada Al-Qur’an. Aplikasi ini menghadirkan cara belajar yang lebih mudah, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Namun, teknologi bukanlah pengganti bagi peran guru dalam pendidikan agama. Keseimbangan antara penggunaan teknologi dan bimbingan langsung dari guru adalah kunci dalam menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an.
Dengan memadukan metode blended learning, guru dan teknologi dapat bekerja bersama untuk memberikan pendidikan yang holistik. Teknologi membantu meningkatkan motivasi dan keterampilan, sementara guru tetap memastikan bahwa aspek spiritual dan etika dalam belajar Al-Qur’an terjaga dengan baik. Di sinilah peran penting kita untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dengan bijak, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional dalam pendidikan agama.
0 Komentar