UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

Qur’ani Reframing: Upaya Mengatasi Hopeless Mentality pada Mahasiswa

Published by admin on

Penulis : Ilma Rizqy Aulia

Akhir-akhir ini, banyak mahasiswa yang merasa kehilangan arah, pesimis terhadap masa depan, dan mudah terjebak dalam pikiran negatif. Fenomena ini kerap disebut sebagai hopeless mentality, yaitu keadaan ketika seseorang merasa tidak ada lagi harapan untuk memperbaiki hidupnya. Tekanan akademik, ketidakpastian karier, perbandingan sosial di media digital, dan ekspektasi tinggi dari lingkungan membuat sebagian mahasiswa merasa hidupnya penuh dengan tekanan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius, seperti stres berkepanjangan bahkan depresi.

Namun dalam Islam, sikap putus asa bukanlah jalan yang dibenarkan. Dalam Surah Yusuf ayat 87, Allah telah berfirman agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-NyaAyat ini bukan hanya peringatan, tetapi juga ajakan untuk mengubah cara pandang terhadap masalah. Dari sinilah lahir gagasan Qur’ani Reframing, yaitu sebuah pendekatan psikologis yang berupaya menata ulang pola berpikir manusia berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an

Dalam psikologi, Reframing berarti mengubah cara seseorang memandang suatu situasi agar lebih adaptif dan positif. Dalam kerangka Qur’ani, perubahan sudut pandang ini tidak hanya bertuumpu pada rasionalitas, tetapi juga pada keimanan, yakni keyakinan bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah yang telah Allah tetapkan.  Bagi mahasiswa, Qur’ani Framing dapat menjadi bekal penting menghadapi tekanan hidup. Ketika seseorang memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari takdir yang menyimpan pelajaran, ia akan lebih mudah menerima keadaan tanpa jatuh untuk menyerah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang Allah untuk hambaNya dalam menguatkan iman, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ ……..

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya ……….

Ayat ini menegaskan bahwa setiap beban sudah diukur secara tepat. Meskipun terasa berat di awal, manusia memiliki kelapangan yang Allah tanamkan dalam dirinya untuk mampu melewati ujian tersebut.

Dalam praktiknya, Qur’ani Framing dapat dimulai dengan kesadaran diri dan refleksi. Mahasiswa dapat melatih diri untuk mengganti pikiran negatif dengan makna yang lebih konstruktif. Misalnya ketika merasa gagal meraih beasiswa, alih-alih berkata “ Saya memang tidak layak” ubahlah menjadi “Mungkin ini belum saatnya, dan Allah sedang menyiapkan jalan lain yang lebih baik.”  Dengan mengubah cara pandang seperti ini, maka mampu menenangkan batin sekaligus memperkuat optimisme.

Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk menginternalisasi konsep khusnudzon billah, yaitu berbaik sangka kepada Allah. Sikap ini membuat seseorang tidak mudah terjebak dalam pikiran “kenapa saya?” dan lebih fokus pada “apa yang bisa saya pelajari dari ini?”. Dengan begitu, mahasiswa tidak lagi melihat kegagalan sebagai akhir, melainkan sebagai proses menuju kematangan jiwa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.

Pendekatan Qur’ani Framing juga menekankan pentingnya lingkungan yang suportif. Teman, dosen, dan keluarga memiliki peran yang besar dalam membentuk pola pikir mahasiswa. Rasulullah Saw. bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud). Artinya, dukungan sosial yang positif dapat menjadi faktor penting dalam mengatasi hopeless mentality, karena lingkungan yang menguatkan jauh lebih berpengaruh daripada lingkungan  yang merendahkan.

Selain dari relasi sosial, mahasiswa juga dapat memanfaatkan ibadah sebagai sarana reframing. Salat, dzikir, dan tilawah bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga bentuk terapi jiwa. Dalam suasana yang khusyuk, seseorang dapat menata kembali niat, menenangkan pikiran, dan menemukan makna dari setiap kesulitan yang dihadapi. Ketika hati kembali terhubung dengan Sang Pencipta, perasaan tidak berdaya perlahan berganti menjadi ketenangan dan keyakinan.

Dengan demikian, Qur’ani Framing bukan sekadar konsep psikologis, melainkan sebuah cara hidup. Ia mengajak manusia, khususnya mahasiswa untuk memandang kehidupan dengan kacamata iman. Bahwa setiap kegagalan adalah peluang, setiap luka adalah proses penyembuhan, dan setiap kesedihan adalah jembatan menuju kedewasaan spiritual.  Sebagaimana dalam Surah Al-Insyirah ayat 5, Allah berfiman “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.  Kesulitan dan kemudahan berjalan beriringan, menempa hati yang kuat, membentuk jiwa agar matang, serta menumbuhkan harapan agar tidak padam.

Maka sejatinya, tidak ada harapan yang benar-benar hilang. Ia tertutup oleh pikiran yang sempit dan hati yang lelah. Tugas kita adalah membuka kembali ruang itu, dan melihat dunia dari sudut pandang Qur’ani, agar seberat apapun langkah yang kita gapai, tetap terasa bernilai.

“Selama masih ada iman, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang.”


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *