Sampaikan Kepada Jiwa yang Menghilang!
Khotmil Qur’an UPTQ di bulan Ramadhan

Penulis : Azhar Ainun Hidayat (anggota Dept. Khotmil)
Bulan Ramadhan bukan menjadi pembatas kegiatan rutinan khotmil Qur’an. Bulan Ramadhan bukan menjadi penyebab berakhirnya rutinitas khataman di UPTQ. Tetapi, bagi Departemen Khotmil UPTQ Ramadhan menjadi sebuah jembatan untuk memperbaiki kualitas rohani masing-masing sebagai peluru semangat kebersamaan setelah Ramadhan nanti yakni istiqamah melaksanakan rutinan khataman lagi setelah istirahat selama 1 bulan
Pada tanggal 28 Februari yang bertepatan dengan 29 syaban 1446 H sekaligus mengawali 1 Ramadhan saat secuil cahaya bulan nampak di ufuk. Departemen Khotmil melaksanakan kegiatan rutinan Khataman di Masjid Raya Ulul Albab UINSA Gununganyar, Surabaya.
Nuansa indah kegembiraan
Kegiatan khataman selalu memberikan nuansa yang mendalam. Suasana khusuk bercampur gembira, munculnya perasaan bercampur aduk bagaikan bumbu masakan dapur yang di aduk hingga menimbulkan aroma positif ketika bercengkrama satu sama lain dan menghayati setiap ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan.
Agenda rutinan UPTQ kali ini menimbulkan suasana yang berbeda dari khataman sebelumnya. Ketua Departemen Khotmil yakni Syahwal Arrafiqi meracik khataman kali ini dengan dukungan dari berbagai pihak, baik itu secara duniawi maupun secara ukhrawi. Menumbuhkan semangat yang membara bagi seluruh anggota di departemen ini.
Takmir Masjid Raya Ulul Albab memberikan support berupa tambahan konsumsi untuk anggota UPTQ yang mengeksekusi khataman pada hari ini. Tak hanya itu, ketua Divisi Tahfidz, Dicky Sumarno dan Ketua Umum UPTQ Bagus Muzaki memberikan doa dan apresiasi penuh atas terselenggaranya kegiatan khataman ini. Tentunya, bumbu yang masyallah tersebut menjadi pembakar semangat yang menyala-nyala bagi Departemen Khotmil yang melaksanakan khataman ini.
Kok bisa?
Ironisnya, dari ratusan anggota UPTQ angkatan 2022,2023, dan 2024 yang tergabung kedalam pengurus maupun tidak, hanya 7 orang saja yang mengikuti kegiatan khotmil kali ini. Padahal pamflet pemberitahuan dan pengumuman agenda khotmil sudah di share dan sebarluaskan sejak H-2 sebelum pelaksanaan.
Minimnya kehadiran dalam kegiatan khataman bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Ini merupakan alarm bagi kita semua bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Baik dalam sistem komunikasi, budaya partisipasi, maupun kesadaran kolektif. Jika kondisi ini terus berlanjut, apa yang kita perjuangkan di UPTQ bisa kehilangan ruhnya. Sebab, keberkahan sebuah organisasi bukan hanya program kerja yang tersusun rapi, tapi pada partisipasi aktif dari setiap individunya.
Sebaliknya, bayangkan jika khataman ini dihadiri lebih banyak anggota. Masjid Raya Ulul Albab akan menjadi saksi lantunan ayat suci yang menggema lebih kuat, menggetarkan hati setiap orang yang hadir. Kita bukan hanya sekadar membaca, melainkan membangun atmosfer spiritual yang semakin hidup. Momentum ini akan melahirkan regenerasi yang lebih solid dan membuktikan bahwa UPTQ bukan sekadar UKM, tetapi wadah bagi jiwa yang haus ilmu dan kebersamaan.
Tongkrongan yang sepi
Apakah kita hanya ingin menjadi penonton dalam perjalanan ini?, atau ingin turut menggoreskan jejak perjuangan?. Ada satu hal yang pasti yakni UPTQ bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang bagi kota untuk bertumbuh. Maka, mari jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik, bukan titik henti. Mari kita kembali berkumpul, tidak hanya dalam keheningan ibadah, tetapi dalam kobaran semangat perjuangan. Karena kita bukan hanya sekedar aktifis yang mewarnai forum diskusi, tetapi juga sebagai pejuang yang menjaga cahaya Alquran tetap bersinar terang di hati dan kehidupan kita
Walaupun kegiatan khotmil sudah dianggap layaknya “nongkrong” bagi Departemen Khotmil tetapi, sebuah tongkrongan tidak terlihat menarik jika isinya hanya orang-orang itu saja. Sebuah organisasi akan dipandang “monoton” jika sebuah program kerja hanya diikuti oleh sang perumusnya saja. Kemana perginya kader-kader unggul UPTQ?.
Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan hal seperti ini sering terjadi. Aku percaya selalu ada sesuatu di UPTQ. Mungkin “sibuk”, “masih kelas”, atau “ ada urusan”. Mungkin suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi. Kita tahu jawabanya namun, bukan urusan kita untuk menjawabnya. Satu pintaku untuk UPTQ kau coba tanyain kembali jika permasalahan ini terjadi lagi. Sampaikan saja pada jiwa yang menghilang.
Salam UPTQ!
Kuliah yes! Ngaji yes! Aktivis yes!
0 Komentar