UKM Pengembangan Tahfidhul Qur'an

MEMBUMIKAN AL-QUR’AN: DARI KONSEP ILMIAH KE IMPLEMENTASI NYATA MELALUI MTQ

Published by admin on

Penulis : Zerlinda Prasanti Supranggono

Di tengah arus perkembangan zaman yang semakin kompleks, umat Islam menghadapi tantangan besar dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Membumikan Al-Qur’an menjadi salah satu solusi yang relevan untuk menjawab tantangan ini. Konsep ini mengajak umat Islam untuk tidak hanya memandang Al-Qur’an sebagai kitab suci yang wajib dipelajari dalam konteks ibadah semata, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang aplikatif dalam berbagai aspek kehidupan.

Prof. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat, menegaskan bahwa membumikan Al-Qur’an berarti membawa ajaran-ajaran Al-Qur’an dari ranah teoretis ke praktik nyata. Beliau menggambarkan konsep ini sebagai upaya untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an relevan dengan tantangan zaman sekaligus memberikan solusi nyata atas permasalahan umat. Dengan kata lain, membumikan Al-Qur’an adalah menjadikannya hidup dan terwujud dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar berhenti pada pembacaan dan kajian akademik.

MTQ sebagai Implementasi Membumikan Al-Qur’an

Salah satu manifestasi nyata dari konsep membumikan Al-Qur’an adalah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). MTQ merupakan ajang perlombaan di bidang seni membaca Al-Qur’an yang bertujuan memperkuat kecintaan umat Islam terhadap kitab suci ini. Sebelum lebih jauh membahas tentang MTQ, penting untuk memahami konteks sejarahnya.

Pada masa Rasulullah ﷺ, Al-Qur’an sering kali dibacakan dengan suara merdu untuk menyentuh hati para pendengar. Rasulullah sendiri dikenal sebagai qari’ yang memiliki suara indah dan menyentuh hati, seperti ketika membaca surah Al-Fath. Tradisi membaca Al-Qur’an dengan seni tilawah ini diteruskan oleh para sahabat, seperti Abdullah ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari, serta para tabi’in seperti Umar bin Abdul Aziz. Mereka menggunakan metode sima’i, talaqqi, dan musyafahah untuk menyampaikan keindahan dan kedalaman makna Al-Qur’an.

Di Indonesia, tradisi MTQ berkembang sejak 1940-an atas inisiasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ajang ini kemudian dilembagakan secara nasional pada 1968 di bawah Menteri Agama, K.H. Muhammad Dahlan. Awalnya, MTQ hanya melombakan kategori tilawah dewasa, tetapi kini telah mencakup berbagai cabang, seperti hafalan, tafsir, hingga kaligrafi Al-Qur’an. MTQ telah menjadi bagian integral dari budaya Islam Indonesia, yang tidak hanya melibatkan kompetisi seni, tetapi juga mendukung dakwah Islam.

Hukum dan Tujuan Pelaksanaan MTQ

Dari segi hukum, pelaksanaan MTQ pada dasarnya mubah (diperbolehkan) karena termasuk dalam perkara baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Namun, hukum ini dapat berubah sesuai niat dan tujuan pelaksanaannya. MTQ menjadi sunnah jika bertujuan untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi dapat menjadi makruh atau bahkan haram jika melibatkan kecurangan, penyimpangan niat, atau motif duniawi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Qur’ani.

MTQ bertujuan mendekatkan umat kepada Al-Qur’an, meningkatkan minat membaca, memahami, dan mengamalkannya, serta memperkuat nilai-nilai spiritual. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah:148:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat ini menjadi landasan bagi umat Islam untuk menjadikan MTQ sebagai ajang berlomba-lomba dalam kebaikan, sekaligus mendukung kemaslahatan umat.

Meski demikian, tidak semua pihak setuju dengan pelaksanaan MTQ. Sebagian pesantren tertentu, seperti Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an, mengkritik ajang ini karena dianggap berpotensi menggeser niat murni ibadah menjadi tujuan duniawi, seperti mengejar hadiah atau popularitas. Mereka juga mengkhawatirkan pelafalan Al-Qur’an yang menyerupai nyanyian serta keterlibatan suara perempuan yang dianggap aurat. Namun, pandangan ini tidak menyurutkan popularitas MTQ sebagai ajang pembinaan moral, spiritual, dan sosial masyarakat Muslim di Indonesia.

Peran UPTQ UINSA dalam Membumikan Al-Qur’an

Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an (UPTQ) UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi salah satu contoh lembaga yang aktif berkontribusi dalam membumikan Al-Qur’an melalui partisipasi di ajang-ajang MTQ. Pada bulan Oktober 2024, UPTQ mengirimkan delegasinya untuk mengikuti Gebyar Brawijaya Qur’ani Ke-10 di Universitas Brawijaya, Malang. Delegasi UPTQ berhasil menunjukkan prestasi di berbagai cabang lomba, seperti tilawah, tahfidz, dan kaligrafi.

Ajang ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, tetapi juga memperkuat semangat mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an. Para peserta menyampaikan bahwa tujuan utama mereka bukan hanya kemenangan, melainkan juga membangun relasi dengan sesama pejuang Al-Qur’an. Relasi ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menumbuhkan semangat kolaborasi dalam menyebarkan nilai-nilai Qur’ani.

Tidak hanya sebagai peserta, UPTQ juga berperan sebagai pelaksana kegiatan yang mendukung syiar Al-Qur’an. Salah satu contohnya adalah Festival Qur’ani (FQ) yang digelar pada tanggal 2-3 November 2024. Dalam kegiatan ini terdapat lomba Musabaqah Hidzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Lomba Tartil dan Hafalan Qur’an (LTHQ), dan Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (LKTIQ). Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari upaya membumikan Al-Qur’an di lingkungan kampus sekaligus sebagai media dakwah yang kreatif dan inspiratif.

Menyatukan Konsep dan Praktik

Melalui berbagai kegiatan dan partisipasi, UPTQ UINSA berhasil menunjukkan bahwa membumikan Al-Qur’an bukan sekadar konsep, tetapi sebuah gerakan nyata yang dapat diwujudkan melalui berbagai cara. MTQ menjadi salah satu media efektif untuk mendekatkan umat kepada Al-Qur’an, sekaligus membangun kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai Qur’ani di masyarakat.

Meskipun masih terdapat pro dan kontra terkait pelaksanaannya, MTQ tetap relevan sebagai salah satu upaya membumikan Al-Qur’an. Melalui partisipasi aktif di ajang-ajang seperti Gebyar Qur’ani, UPTQ UINSA telah membuktikan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di ranah akademik, spiritual, maupun sosial. Upaya ini diharapkan terus berkembang agar Al-Qur’an semakin membumi dan menjadi pedoman hidup umat Islam di masa kini dan masa mendatang.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *