DIFABEL BERTRANSFORMASI MENJADI LA’EEB

by: Berlian Emira Salsabila
Jika semua orang menanti-nanti kedatangan piala dunia FIFA yang diadakan 4 tahun sekali itu sudah biasa. Tapi piala dunia FIFA kali ini, sejak 1930 untuk pertama kalinya diadakan di negara mayoritas Islam, Qatar. Dimana sebuah tantangan besar bagi Qatar dan juga para tamu undangan dengan kebiasaan yang jauh berbeda.
Ini adalah kesempatan Qatar untuk memperkenalkan agama Islam kepada dunia, seperti menempatkan mural berisi hadits-hadits Nabi. Usaha tersebut tentu saja tidak sia-sia, sekitar 558 orang masuk Islam sepekan jelang pembukaan piala dunia FIFA. (WONOSOBO.COM, 2022)
Tak berhenti disitu kemegahan Qatar juga nampak pada pembukaan piala dunia FIFA pada tanggal 20 November lalu yang bertempat di stadion Al-Bayt, Qatar. Siapa sangka negara yang kaya raya tersebut menampilkan pemuda difabel di atas panggung megah yang ditonton oleh sebagian besar penduduk bumi. Sebagian besar orang penasaran dengan pemuda tersebut, sebenarnya siapa pemuda itu?
Pemuda tersebut bernama Ghanim Al-Muftah. Ghanim terlahir dengan caudal regression syndrome yang mengakibatkannya terlahir tanpa tubuh bagian bawah sehingga dia harus menjalani terapi sampai saat ini. Menurut channel youtube Ghanim, @ghanim al-muftah, dia mempunyai saudara kembar yang terlahir sempurna yang bernama Ahmed.
Alih-alih menyalahkan keadaan, pemuda usia 20 tahun tersebut terus semangat melanjutkan hidup dengan dukungan saudara dan orang-orang terdekatnya. Hingga akhirnya dia bisa duduk di bangku perkuliahan jurusan ilmu politik di Universitas Loughborough, Inggris dan bercita-cita untuk menjadi diplomat Qatar.
Tak cukup sampai di situ, Ghanim Al-Muftah adalah seorang hafidz al-Qur’an yang mempunyai perusahaan ice cream yang benama “Gharissa Ice Cream” dengan 6 cabang dan 60 karyawan. Keluarga Ghanim juga mendirikan lembaga “Filantropi Asosiasi Ghanim” yang merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial dengan membagi-bagikan kursi roda kepada siapapun yang membutuhkan.
Karena dengan segudang prestasi itulah dia dipilih sebagai brand ambassador piala dunia. Pada saat Opening ceremony Ghanim tampil bersama aktor hollywood, Morgan Freeman, dengan membacakan Qur’an surat al-Hujarat ayat 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
”Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Dalam percakapannya bersama Morgan freeman, Ghanim berkata “Kita harus percaya bahwa kita tersebar di seluruh dunia ini sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku jadi kita bisa saling belajar dan menemukan keindahan dalam perbedaan dengan mengahadirkan toleransi dan menghormati satu sama lain sehingga kita bisa hidup bersama-sama di bawah naungan rumah besar”
Dari sosok Ghanim Al-muftah kita bisa banyak belajar bahwa kekurangan bukanlah penghalang untuk berkarya, bukan alasan untuk menyalahkan keadaan dan berhenti menjalani hidup. Dengan kekurangannya dia bahkan sangat senang membantu orang lain yang mungkin tidak semua orang yang terlahir sempurna bisa melakukan hal yang sama.
Tidak ada kata insecure dalam hidupnya yang sering ditemukan pada remaja zaman sekarang, bahkan Ghanim tidak pernah iri kepada saudara kembarnya yang terlahir sempurna, kecil kemungkinan hal itu terjadi pada orang lain karena jika dilihat di lapangan banyak antar saudara yang bertengkar hanya karena fisik yang tidak seindah saudara yang lain.
Bahkan dengan kondisi Ghanim yang seperti itu dia bisa menghafalkan al-Qur’an. Seorang non muslim tidak akan belajar al-Qur’an untuk mengenal islam. Mereka akan melihat bagaimana perilaku ummat Islam itu sendiri, karena pada dasarnya suatu ummat akan berperilaku sesuai apa yang diajarkan kepadanya. Dan Ghanim Al-Muftah sudah melakukan itu semua.
Dengan begitu, Ghanim Al-Muftah benar-benar telah mengamalkan isi al-Qur’an. Mulai dari memperbaiki diri sendiri, percaya akan taqdir Allah SWT, serta berbagi kepada sesama. Teman teman, dengan apa lagi kita akan berubah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”
0 Komentar